Sabtu, 30 Mei 2015

Penigkatan Hasil dan Mutu Kelautan Indonesia Melalui Pembudidayaan Udang Berbasiskan Teknologi Tepat Guna Sebagai Wujud Cinta Pada Negeri Bahari



Sumber: gurusejarah.com
Indonesia adalah negara kepulauan (Archipelagic State) terbesar di dunia, terdiri dari 17.4466 pulau termasuk pulau-pulau kecil yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan jumlah luas perarairan  hampir mencapai 4.85% dari total perairan dunia. Keadaan ini menjadikan Indonesia kaya akan sumber daya alam khususnya kelautan sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di mata dunia. 

Sebutan negara maritim sebenarnya telah disandang jauh sebelum Indonesia memproklamirkan  kemerdekaannya. Seperti semboyan “Bangsa Bahari”, “Berjiwa Bahari” serta “Nenekku Orang Pelaut” bukan hanya selogan belaka. Sejak zaman dahulu, laut sudah dijadikan ladang mata pencaharian, laut juga dijadikan para pahlawan kita sebagai tempat menggalang kekuatan perang, serta pelau-pelaut yang handal.

Fakta tersebut membuktikan kejayaan maritim Indonesia di masa lampau, dan memunculkan kesadaran bahwa Indonesia yang notabene negara maritim terbesar di dunia tentunya diharapkan mampu mengembangkan segala potensi kelautannya baik ditinjau dari segi kepariwisataan maupun dari segi pengolahan hasil laut yang meliputi perikanan, pertambakan dan lain sebagainya.

Menurut direktur Indonesia Maritime Institute (IMI) Dr. Yulius Paonganan, M.Sc, potensi laut Indonesia mencapai enam kali lipat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Meskipun Indonesia merupakan negara yang kaya laut, tapi potensi kelautannya belum dimanfaatkan secara maksimal".

Peluang pengembangan usaha kelautan dan perikanan Indonesia masih memiliki prospek yang cukup cerah. Berada di bawah lingkup tugas Kementrian Kelautan dan Perikanan. Potensi tersebut meliputi : potensi perikanan tangkap sebesar US$ 15,1 miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$ 46,7 miliar per tahun, potensi perairan umum sebesar US$ 1,1 miliar per tahun, potensi budidaya tambak sebesar US$ 10 miliar per tahun, potensi budidaya air tawar sebesar US$ 5,2 miliar per tahun, dan potensi bioteknologi kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun.

Melihat besarnya potensi kelautan Indonesia, tidak berlebihanlah jika beberapa tahun belakangan ini pemerintah Indonesia sangat menaruh perhatian besar terhadap sektor kelautan. Namun potensi laut ini tidak serta merta dapat mengalami peningkatan baik hasil serta mutu jika tidak tidak ada kerja sama dari berbagai pihak, baik pemerintah, pelaku industri atau investor maupun masyarakat serta teknologi yang tepat guna. 

Salah satu contoh potensi kelautan Indonesia yang perkembangannya cukup signifikan dan telah berpartisipasi di pasar dunia adalah Budidaya udang. Budidaya udang di dunia didominasi oleh negara- negara yamg memiliki daerah tropis seperti  RRC, Thailand, Vietnam, Indonesia, India, Brazil, Ekuador dan Meksiko.
 
Sumber: Detik Food
Pembudidayaan udang di Indonesia dengan berbasiskan teknologi tidak hanya mampu memenuhi permintaan pasar dunia melalui jumlahnya yang meningkat tetapi juga mampu bersaing dari segi kualitas. Dibandingkan dengan menangkap udang liar, budidaya udang dengan teknologi tepat guna seperti akuakultur dianggap lebih aman untuk konsumsi manusia juga lebih ekonomis.

Sumber: CP Prima
Salah satu perusahaan yang mengembangkan budidaya udang dengan berbasiskan teknologi  adalah Central Proteina Prima. Sebuah perusahaan budidaya terkemuka di dunia dengan lebih dari 35 tahun pengalaman operasi dalam industri akuakultur dan diakui sebagai pelopor global dalam skala besar yang terintegrasi secara vertikal operasi akuakultur. CP Prima memproduksi pakan dan goreng, produk udang dan probiotik dimana Operasi dan produksi bersertifikat di bawah standar keamanan pangan domestik dan internasional dengan praktek tanpa antibiotik dan ketertelusuran penuh dan CP Prima merupakan perusahaan pengolahan udang pertama di dunia yang menerima sertifikasi global GAP. 

Perusahaan ini menerapkan standar dalam pengelolaan Keamanan, Kesehatan dan Lingkungan. Sebagai pelaku budidaya udang terintegrasi secara penuh yang memasarkan produknya ke tiga pasar utama dunia yaitu Amerika, Jepang dan Eropa, maka jaminan terhadap mutu dan keamanan produk, serta kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan masyarakat sekitarnya merupakan syarat penting yang harus dipenuhi agar produknya dapat tetap memasuki pasar internasional.

Sumber CP Prima
Setelah lebih dari 35 tahun berkarya, sebagai wujud cintanya pada negeri bahari, dengan lahan konservasi ± 3.200 Ha, mempekerjakan ± 5.600 karyawan serta ± 300 ahli akuakultur, dengan prinsip pemanfaatan sumber daya kelautan dengan teknologi tepat guna yang tidak merusak ekosistem kelautan, serta penyejahteraan kehidupan karyawan, telah menjadi pionir bagi perusahaan lainnya dan diharapkan ditahun-tahun mendatang lebih meningkatkan dan mengembangkan sayapnya di seluruh dunia, yang berimbas pada meningkatnya taraf penghidupan rakyat Indonesia dan perekonomian Indonesia pada umumnya.

Bukan tidak mungkin mata dunia sekali lagi tertuju pada Indonesia dan mampu membuktikan julukan “Negara Maritim” yang tidak sekedar memiliki laut yang luas, pelaut zaman dahulu yang handal, tetapi juga negara penghasil dan pengekspor hasil laut nomor satu dunia. Semoga saja.
 
Referensi:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar