![]() |
| Sumber: gurusejarah.com |
Indonesia adalah negara kepulauan (Archipelagic
State) terbesar di dunia, terdiri dari 17.4466 pulau termasuk pulau-pulau kecil
yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan jumlah luas perarairan hampir mencapai 4.85% dari total perairan
dunia. Keadaan ini menjadikan Indonesia kaya akan sumber daya alam khususnya
kelautan sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di mata
dunia.
Sebutan negara maritim sebenarnya telah disandang jauh sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Seperti semboyan “Bangsa Bahari”, “Berjiwa Bahari” serta “Nenekku Orang Pelaut” bukan hanya selogan belaka. Sejak zaman dahulu, laut sudah dijadikan ladang mata pencaharian, laut juga dijadikan para pahlawan kita sebagai tempat menggalang kekuatan perang, serta pelau-pelaut yang handal.
Sebutan negara maritim sebenarnya telah disandang jauh sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Seperti semboyan “Bangsa Bahari”, “Berjiwa Bahari” serta “Nenekku Orang Pelaut” bukan hanya selogan belaka. Sejak zaman dahulu, laut sudah dijadikan ladang mata pencaharian, laut juga dijadikan para pahlawan kita sebagai tempat menggalang kekuatan perang, serta pelau-pelaut yang handal.
Fakta tersebut membuktikan kejayaan maritim Indonesia di masa lampau, dan memunculkan kesadaran bahwa Indonesia yang notabene negara maritim terbesar di dunia tentunya diharapkan mampu mengembangkan segala potensi kelautannya baik ditinjau dari segi kepariwisataan maupun dari segi pengolahan hasil laut yang meliputi perikanan, pertambakan dan lain sebagainya.
Menurut direktur Indonesia Maritime Institute (IMI)
Dr. Yulius Paonganan, M.Sc, potensi laut Indonesia mencapai enam kali lipat Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Meskipun Indonesia merupakan negara yang
kaya laut, tapi potensi kelautannya belum dimanfaatkan secara maksimal".
Peluang pengembangan usaha kelautan dan perikanan Indonesia masih memiliki prospek yang cukup cerah. Berada di bawah lingkup tugas Kementrian Kelautan dan Perikanan. Potensi tersebut meliputi : potensi perikanan tangkap sebesar US$ 15,1 miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$ 46,7 miliar per tahun, potensi perairan umum sebesar US$ 1,1 miliar per tahun, potensi budidaya tambak sebesar US$ 10 miliar per tahun, potensi budidaya air tawar sebesar US$ 5,2 miliar per tahun, dan potensi bioteknologi kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun.
Peluang pengembangan usaha kelautan dan perikanan Indonesia masih memiliki prospek yang cukup cerah. Berada di bawah lingkup tugas Kementrian Kelautan dan Perikanan. Potensi tersebut meliputi : potensi perikanan tangkap sebesar US$ 15,1 miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$ 46,7 miliar per tahun, potensi perairan umum sebesar US$ 1,1 miliar per tahun, potensi budidaya tambak sebesar US$ 10 miliar per tahun, potensi budidaya air tawar sebesar US$ 5,2 miliar per tahun, dan potensi bioteknologi kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun.
Melihat besarnya potensi kelautan Indonesia, tidak berlebihanlah
jika beberapa tahun belakangan ini pemerintah Indonesia sangat menaruh
perhatian besar terhadap sektor kelautan. Namun potensi laut ini tidak serta
merta dapat mengalami peningkatan baik hasil serta mutu jika tidak tidak ada
kerja sama dari berbagai pihak, baik pemerintah, pelaku industri atau investor
maupun masyarakat serta teknologi yang tepat guna.
Salah satu contoh potensi kelautan Indonesia yang
perkembangannya cukup signifikan dan telah berpartisipasi di pasar dunia adalah
Budidaya udang. Budidaya udang di dunia didominasi oleh negara- negara yamg memiliki
daerah tropis seperti RRC, Thailand,
Vietnam, Indonesia, India, Brazil, Ekuador dan Meksiko.
Pembudidayaan udang di Indonesia dengan berbasiskan teknologi tidak hanya mampu
memenuhi permintaan pasar dunia melalui jumlahnya yang meningkat tetapi juga
mampu bersaing dari segi kualitas. Dibandingkan dengan menangkap udang liar,
budidaya udang dengan teknologi tepat guna seperti akuakultur dianggap lebih
aman untuk konsumsi manusia juga lebih ekonomis.
![]() |
| Sumber: CP Prima |
Salah satu perusahaan yang mengembangkan
budidaya udang dengan berbasiskan teknologi adalah Central Proteina Prima. Sebuah perusahaan
budidaya terkemuka di dunia dengan lebih dari 35 tahun pengalaman operasi dalam
industri akuakultur dan diakui sebagai pelopor global dalam skala besar yang
terintegrasi secara vertikal operasi akuakultur. CP Prima memproduksi pakan dan
goreng, produk udang dan probiotik dimana Operasi dan produksi bersertifikat di
bawah standar keamanan pangan domestik dan internasional dengan praktek tanpa
antibiotik dan ketertelusuran penuh dan CP Prima merupakan perusahaan
pengolahan udang pertama di dunia yang menerima sertifikasi global GAP.
Perusahaan
ini menerapkan standar dalam pengelolaan Keamanan, Kesehatan dan Lingkungan.
Sebagai pelaku budidaya udang terintegrasi secara penuh yang memasarkan
produknya ke tiga pasar utama dunia yaitu Amerika, Jepang dan Eropa,
maka jaminan terhadap mutu dan keamanan produk, serta kepedulian terhadap
pelestarian lingkungan dan masyarakat sekitarnya merupakan syarat penting yang
harus dipenuhi agar produknya dapat tetap memasuki pasar internasional.
![]() |
| Sumber CP Prima |
Setelah lebih dari 35 tahun berkarya, sebagai
wujud cintanya pada negeri bahari, dengan lahan konservasi ± 3.200 Ha,
mempekerjakan ± 5.600 karyawan serta ± 300 ahli akuakultur, dengan prinsip
pemanfaatan sumber daya kelautan dengan teknologi tepat guna yang tidak merusak
ekosistem kelautan, serta penyejahteraan kehidupan karyawan, telah menjadi pionir
bagi perusahaan lainnya dan diharapkan ditahun-tahun mendatang lebih
meningkatkan dan mengembangkan sayapnya di seluruh dunia, yang berimbas pada
meningkatnya taraf penghidupan rakyat Indonesia dan perekonomian Indonesia pada
umumnya.
Bukan tidak mungkin mata dunia sekali lagi
tertuju pada Indonesia dan mampu membuktikan julukan “Negara Maritim” yang
tidak sekedar memiliki laut yang luas, pelaut zaman dahulu yang handal, tetapi
juga negara penghasil dan pengekspor hasil laut nomor satu dunia. Semoga saja.
Referensi:




Tidak ada komentar:
Posting Komentar