Senin, 08 Juni 2015

Beberapa Tipe Manusia Dalam Menghadapi Masalah


Sebenarnya sebagian dari tulisan ini sudah saya tulis di sini, tapi nggak apa-apalah saya tulis kembali dalam satu kolom dan judul khusus, mengingat bahwa begitu pentingnya hal ini untuk kita ketahui, hehe.. nggak mau sok dewasa sih, tapi hmm… coba deh dibaca-baca aja dulu.

Beberapa buku yang saya baca memberi saya kesimpulan bahwa secara garis umum terdapat 3 (tiga) tipe Tipe-tipe manusia dalam menghadapi masalahnya, tipe seperti apa saja sih? Yang pasti bukan tipe manusia serigala atau manusia jadi-jadian pemirsah. Kalau itu mah, saya juga nggak ikutan euiihh [ -__-‘]

1.     Manusia tidak peduli atau cuek
2.     Manusia pikiran negatif, dan terakhir adalah
3.     Manusia pikiran positif

So, kita bakal bahas satu-satu ya…

Manusia Tidak Peduli Atau Cuek

Walaupun saya adalah tipe orang yang tidak suka membiarkan masalah yang saya hadapi tinggal ngegantung sana-sini dan berlarut-larut, namun tidak jarang saya memperaktekkan prinsip ini.

 Pikiran saya waktu itu adalah, “ Ntar juga masalahnya kelar sendiri” atau “Ntar juga masalahnya hilang sendiri”. Aduh, mana ada masalah yang bisa kelar sendiri kalau gak diselesein, mana ada masalah yang hilang sendiri kalau gak dihilangin, dan satu-satunya cara buat ngilangin ntu’ masalah yah harus diselesein sampe ke akar-akarnya. Betapa noraknya pikiran saya dulu, tapi teman-teman yang ngebaca ini gak gitu kan? hehehe.

Jadi, pada intinya, menjadi manusia tidak peduli alias cuek dalam menghadapi masalah adalah hal yang tidak disarankan, why? Karena, memilih menjadi manusia tida peduli atau cuek, berarti kita memilih lari dari kenyataan hidup atau lari dari permasalahan yang seyogyanya harus kita hadapi dan itu sama saja halnya dengan kita tidak mau dan tidak akan pernah belajar dari keaadaan atau masalah yang kita hadapi. Maka kapankah kita bisa menjadi dewasa?

Iya, memang benar lari dari masalah membuat kita terlepas saat itu, tapi sampai kapan kita terus berlari? mau sampai kapan? sedang masalah itu nggak akan hilang sama sekali atau hilang sendirinya. Untuk sementara waktu mungkin, tapi yakin saja suatu saat ini akan muncul kembali dan nggak akan ada jalan lagi selain harus dihadapi.

Manusia Pikiran Negatif

Hmm… menjadi manusia seperti juga pernah saya lakoni, dan itu membuat keadaan tidak menjadi lebih baik seperti yang saya atau yang kita inginkan. Justru manusia dengan tipe seperti ini sibuk mencari-mencari kambing hitam untuk menyalahkan orang lain atau keadaan atas apa yang sedang terjadi padanya. Benar apa benar? Saya rasa ini benar. Tidak akan ada penyelesaian masalah dan kita nggak akan belajar apapun dari peristiwa tersebut padahal energi sudah terkuras untuk berpikir yang tidak-tidak. Kemudian dampak serius dan berkelanjutan dari manusia tipe ini adalah sikap arogan yang berlebihan, merasa tidak percaya diri, serta menganggap keputusan Allah tidak pernah adil terhadap dirinya.

Beberapa tahun belakangan, saya mengamati  bahwa manusia cenderung memiliki sikap seperti ini, telah mendarah daging dan sudah menjadi mindset keseharian yang tentunya sangat-sangat mempengaruhi tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita, hehe… apaan sih? Tapi bener lho ini.

Manusia Pikiran Positif

Kemudian tipe terakhir adalah tipe manusia positif. Adalah cenderung melihat sebuah masalah dengan segala kemungkinan penyelesaian yang ada. Pikiran seakan-akan terdorong untuk memberi toleransi terhadap masalah, sambil mencari jalan pemecahan yang paling tepat dan dengan sendirinya pikiran akan jauh berpengaruh baik terhadap lingkungan internal maupun eksternalnya sehingga menghasilkan juga tindakan yang positif. Tanpa disadari berpikir positif  selalu memberikan pelajaran berharga dan membuat kita menjadi pribadi yang tangguh, cekatan, dan semakin dewasa dalam bertindak. Dampak lain yang kita rasakan adalah semakin tegar dalam mengarungi kehidupan yang keras ini, semakin bijak dalam segala hal, serta semakin, semakin dan semakin… ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Overall, manusia berhak memilih jalan mana yang ingin Ia tempuh, saya sendiri tidak ingin menjadi manusia tidak peduli atau cuek, karena saya adalah tipe manusia yang sangat pedulian (narsisnya euuhhh). To be honest, karena saya agak kurang suka melihat manusia yang tidak dewasa (ngesellin banget yah kan? Ini bener-bener pelajaran buat diri sendiri) bukan berarti saya ingin menjauhi mereka. Justru, ingin melihat mereka membangun karakter kedewasaan mereka.

 Kemudian, saya juga tidak ingin menjadi manusia yang di kepalanya hanya diisi dengan pikiran negative. O…tidak. Tidak. Terima kasih.  Itu buka karakter yang baik apalagi untuk jangka panjang, membuang energi saja, juga hmm… oh ya, berpikir negatif itu menjauhkan kita dari rezeki loh, pemirsah.

So, saya sedang berusaha menjadi orang yang selalu berpikir positif, meski memang agak sulit tapi yakinlah kalau kita mau berusaha pasti juga bisa. Suatu saat nanti akan menjadi kebiasaan dalam menghadapi masalah apapun sehingga membuat jiwa kita damai dan tentram.

Sehingga benarlah, bahwa penghalang sebesar apapun, setinggi apapun, seluas apapun jika kita berpikiran positif maka semua itu bukanlah penghalang. Semua akan tampak mudah di depan mata.

Wah! Jadi lupa waktu, nggak pernah membayangkan tulisannya bakal sepanjang ini, saking bersemangatnya (-_-‘)

Terakhir, semoga teman-teman bisa mengambil manfaat dari tulisan saya ini dan jangan lupa selalu berpikir positif ya, terutama buat  yang masih remaja, karena kalian adalah generasi penerus bangsa, please… demi kemajuan bangsa dan negara.
Be strong and choose to be positive!

Selasa, 02 Juni 2015

Sepenggal Catatan Ahyar Anwar : Aku Yang Menangis Ditepi Antara Hujan dan Rembang Malam yang Sunyi


Assalamu'alaikum Warahmatullah,
Hay sobat, yah...jam 12 malam, nge-post tengeah malam, jangan kira, sebenarnya mata saya udah redup.... tapi postingan ini udah saya tunda beberapa kali gara-garanya jaringan yang kurang bersahabat. Entah malam ini sikapnya agak manis ke saya, tumben, tapi apapun itu Alhamdulillah jadi buru buru aja nge-post ini.

Oh ya, sebenarnya malam ini saya mau nge-post sebuah catatan dari Almarhum Ahyar Anwar, beliau adalah dosen kami dulu di Fakultas Bahasa dan Sastra UNM. Walaupun gak pernah ngajarin saya di kelas secara langsung, namun saya kerap hadir di seminar-seminar beliau.


 Beberapa karya beliau sudah diterbitkan, kiprah beliau di dunia satra dan budaya menjadikan beliau salah seorang Budayawan Sulawesi Selatan, even dengan umur beliau yang masih muda. Kenyataannya bahwa Allah Yang Maha Penyayang lebih menyayangi beliau, sehingga dipanggil menghadap-Nya lebih cepat. Yah, ajal memang nggak ada yang tahu, semua menjadi misteri yang tak terpecahkan. Satu hal yang pasti, Syurga dan Neraka ada. Manusia berhak memilih jalan yang ingin ia tempuh, tapi semoga Allah selalu menunjukkan kita jalan lurus-Nya.

Catatan ini menurut saya penggabaran seseorang terhadap cinta berikut soal apa yang ia rasakan tentang cinta, agak mengarah ke keresahan jiwa sih... tapi ini bener catatan pertama kali aku baca bikin hati ciut menggelayu (curiga yang punya blog lagi galau hehe...), dan salah satu penggalan kalimat yang paling aku suka dari tulisan ini adalah:


Ada rahasia hatiku yang gugur bersama dedaunan akasia. Andai saja rahasia hatiku dapat aku lemparkan pada malam atau dapat aku luruhkan pada derai hujan.(Jujur: sebenarnya ini catatan bikin saya meweek, bener-bener indah!)
Ada yang mau ngungkapin pendapatnya setelah baca ini? tuliskan di kolom komentar ya.


28 April 2010 pukul 21:41
Aku Yang Menangis Ditepi Antara Hujan dan Rembang Malam yang Sunyi

Ahyar Anwar

Di tepi antara rembang petang dan malam yang resah, aku lebih dulu menangis dari lirih rinai hujan yang datang dengan kerinduan yang basah. Ada rahasia hatiku yang gugur bersama dedaunan akasia. Andai saja rahasia hatiku dapat aku lemparkan pada malam atau dapat aku luruhkan pada derai hujan. Setelah itu kerinduanku padamu dapat memudar gelap dan jatuh mengalir untuk hilang teresap tanah, mungkin kepedihan dan penderitaanku yang sunyi ini akan berakhir begitu saja saat fajar tiba. Tapi kerinduan itu justru terus menyatu dalam kenanganku yang basah dengan bayangan kematianku yang gelap.

Aku lalu berdoa dalam jiwaku, semoga rinduku ini mengalir diam-diam dalam airmataku, dan kekasihku tak pernah akan tahu! Bahwa ada satu malam ditepi antara sunyi dan perih aku meneteskan kerinduanku dengan tetesan hujan yang datang dari langit untuk mencari jalan menuju sungai kecil yang bening. Sebelum mengalir jauh dalam samudra untuk hilang selamanya!

Aku lalu menyulam waktu diantara warna rona kenangan dengan harapan-harapan cintaku yang menyerah pada keindahan pelangi! Tapi kenangan itu terus akan mengalir dalam hujan-hujan yang lain, terutama saat pertama kali senyum dan teduhnya mata kekasihku itu mengalir dalam hampir semua impianku! Sebelum kesunyian dan resah menukarnya dengan catatan-catatan rindu yang tajam dan mengiris jiwaku untuk selamanya!

Mungkin hujan hanyalah hiasan bagi alam yang merangkum kesedihan waktu. Seperti aku yang tumbuh dalam kerinduan menuju kerinduan dalam kutukan cinta yang dituliskan pada musim-musim yang paling sunyi. Hingga kelak aku harus tiba dimuara sebuah sungai dan mananti datangnya airmataku yang telah berubah menjadi buih-buih lembut tempatku berkaca pada kenangan mata kekasihku.

Tapi semua rindu adalah wajah semua cinta, selalu tajam dan segelap jiwa malam yang dengan mudah mengirimkan kabut pada hidup seseorang.

Dulu aku pernah mendengar kisah-kisah yang diceritakan kembali, bahwa “engkau dapat mengalami keajaiban cinta jika hatimu mengizinkan jiwamu untuk mengundang peristiwa-peristiwa yang tak kau harapkan untuk menjadi kenyataan”
Seperti saat pertama kali aku menatap matamu dan segala malam tiba-tiba tumpah disemua impianku lalu semua musim menjadi selalu basah, tentu juga selalu hujan.
Hingga aku selalu menerima keraguanku sebagai berkah waktu yang mengirimkan rahasia hatimu tiada henti, untuk selamanya.

Aku menyaksikan banyak orang memilih cinta untuk sebuah ketakutan. Ia memilih rindu yang artifisial, ia merancang cinta dengan jubah dan gaun-gaun keindahan. Sehingga cinta menjadi harapan pasti yang serba bahagia, tapi tanpa rahasia dan tanpa mujizat! Betapapun cinta bukanlah cinta jika kehilangan kemungkinan rahasia dalam kisahnya. Orang-orang itu menjadikan cinta sebagai hiasan dari ketakutan-ketakutannya pada mujizat cinta. Tanpa sadar ia telah merampok cinta dengan membersihkan seluruh isi rahasia yang magis dari dalam tubuhnya. Seperti membersihkan malam dari segala kabut dan bayangan gelapnya! Malam seperti apa yang kehilangan kabut dan bayangan gelapnya? Itulah malam yang kehilangan rahasianya, kehilangan kesunyian yang mendentingkan keresahan yang perih. Tapi malam ditaklukkan dengan cahaya-cahaya untuk menyingkirkan gelapnya hanya karena mereka takut pada gelap.

Tuhan telah melimpahkan cinta pada kita bukan sekedar hiasan, tapi untuk kita terima dengan kepasrahan atas mujizatnya yang penuh dengan detak rahasia. Apapun yang kemudian hadir pada sebuah kisah cinta adalah berkah yang dilimpahkan menjadi rahasia terbaik. Sekalipun limpahan itu adalah sebuah penderitaan panjang yang sunyi tiada hilang!

Aku telah menyaksikan orang-orang menyedihkan yang menebuskan waktu hidupnya dengan harapan cinta yang murahan. Mereka selalu mengancam cinta untuk membuka rahasianya, bahkan mengancam agar rahasia cinta selalu sama dengan impiannya tentang cinta. Semua cinta adalah kebahagian dan harus seperti itu. Mereka membangun dongeng tentang cinta dan memeliharanya dari masa ke masa. Bahwa cinta adalah pertemuan yang indah dan selalu pasti berakhir indah.tak ada derita dan keperihan dalam cinta. Cinta adalah limpahan warna indah yang selalu pasti!

Kesedihan adalah sebuah anugerah, bahkan kesunyian yang menyertai kesedihan itu adalah mujizat yang merangkum rahasia yang paling mewah dari kesadaran kita tentang cinta. Disitu ada kerinduan yang paling perih dan kita bisa menyulam kesuraman menjadi permadani waktu yang membuat nada-nada dalam hidup kita begitu harmonis. Pada rahasia itu, kita bisa menumbuhkan hidup kita dalam karunia-karunia yang ritmis. Dititik itulah kita akan merasakan tarian cinta yang paling murni.

Hingga suatu malam yang juga paling perih aku bergumam pada diriku sendiri :

“Dengan membuang rahasia cinta dalam kisah hidupmu! Engkau hanya akan menguburkan hidupmu dalam nyanyian indah kematian yang tampak hidup”

Begitulah,
Aku sedang berada ditepi antara rembang petang dan malam yang resah, duduk menanti datangnya rahasia cinta yang paling suram dalam sejarah hidupku, tetapi dengan anugerah yang paling hidup dalam jiwaku.