Minggu, 29 Maret 2015

Mari ber- Positive Thinking!

Setelah saya tersadar bahwasanya, terjadi penurunan rutinitas membaca dalam hidup saya setahun belakangan ini, pada akhirnya saya memutuskan untuk memulai dengan sebuah buku karya Mas Billy Boen, judulnya Young on Top, warna sampul bukunya, kuning cerah penuh semangat, cocok untuk membangkitkan semangat baca yang telah hilang. Buku ini saya beli Februari tahun lalu, dan saya yakin buku ini juga belum khatam. -_-

Jujur saja, buku ini memberi sajian menarik di setiap babnya. Tetapi ada satu bab yang membuat saya sungguh tertarik, entah karena kejadian siang tadi dan rentetan kejadian beberapa waktu lalu yang ada sangkut pautnya, dan itu sungguh menggelitik pikiran saya, katakan saja begitu.

Positive Thinking

“Berpikir positif adalah salah satu resep paling manjur yang dapat digunakan untuk merobohkan semua tembok penghalang yang ada di depanmu, tidak peduli betapa tinggi dan kokoh tembok tersebut.” ( Billy Boen)  

Entah berapa kali saya mengulang untuk membaca kata demi kata kalimat di atas. Sebegitu dahsyatnya sebuah “pikiran positif'” itu ?

Tidak hanya sampai di situ, Mas Billy Boen kemudian menambahkan bahwa setiap manusia pasti pernah merasakan keadaan yang tidak sesuai keinginannya. Ada tiga alternatif yang bisa dilakukan pada saat menghadapi situasi seperti ini:

1. Tidak peduli alias cuek
2. Menghadapinya dengan pikiran negatif
3. Menghadapinya degnan pikiran positif

Nah, mari kita tinjau satu persatu dari beberapa alternatif yang bisa kita gunakan di atas.
Sependek pengalaman saya memang ada orang- orang yang memilih tidak peduli alias cuek dalam menghadapi sebuah masalah. Banyak yang beranggapan bahwa langkah tidak peduli alias cuek adalah jalan terbaik untuk ditempuh. Tapi, benarkah demikian? 

Ternyata tidak peduli alias cuek sama saja telah memilih jalan untuk tidak belajar dari keadaan atau sebuah masalah yang tengah dihadapi. Dengan kata lain, lari dari masalah tersebut. Iya, memang lari dari masalah membuat kita terlepas saat itu, tapi sampai kapan kita terus berlari? mau sampai kapan? sedang masalah itu tidak akan hilang sama sekali atau hilang sendirinya. Untuk sementara waktu mungkin, tapi yakin saja suatu saat ini akan muncul kembali dan tidak akan ada jalan lagi selain harus dihadapi.

Menghadapi masalah dengan berpikiran negatif, lebih lebih tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik seperti yang kita inginkan. Justru, terkadang orang-orang yang selalu berpikiran negatif cenderung mencari kambing hitam atau menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa dirinya. Benar apa benar? Saya rasa ini benar. Tidak akan ada penyelesaian masalah dan kita ngga akan belajar apapun dari peristiwa tersebut padahal energi sudah terkuras untuk berpikir yang tidak benar.

Nah, sedang ketika kita berpikir positif terhadap sebuah pemasalahan yang ada, maka kita cenderung melihat segala sesuatunya akan ada jalannya, pikiran seakan-akan terdorong untuk memberi toleransi terhadap masalah yang ada, sambil mencari jalan pemecahan yang paling tepat dan dengan sendirinya pikiran akan jauh berpengaruh baik terhadap lingkungan internal maupun eksternal kita. Tanpa disadari berpikir positif  selalu memberikan pelajaran berharga dan membuat kita semakin dewasa dalam bertindak.

Sehingga benarlah, bahwa penghalang sebesar apapun, setinggi apapun, seluas apapun jika kita berpikiran positif maka akan semua itu bukanlah penghalang. Semua akan tampak mudah di depan mata.

Jadi, jalan manakah yang akan anda tempuh? ayolah mari ber-Positive Thinking!

Sabtu, 28 Maret 2015

Salam Jendela Dunia!


Kemarin pagi sebelum berangkat beraktifitas, saya meraih buku yang telah hampir berhari-hari di tempat tidur, dan malangnya hampir juga gak pernah tersentuh sama sekali, artinya pernah aja yah tapi.... yah gitu deh  : D

Jadi pertanyaannya adalah, ngapain tuh buku ada disitu kalo gak dibaca?
sabar..sabar, orang sabar banyak temannya.

So, faktanya adalah pernah suatu hari saya nonton seorang seleb di negeri kita Indonesia Raya ini, entah apa nama acaranya, saya lupa. Jadi ceritanya adalah si mba Happy Salma ini punya kebiasaan naroh buku di selip-selipin di pinggir tempat tidur, jadi kalau lagi nyantai di tempat tidur terus mau ngebaca langsung ambil saja... ciuungggg! ada deh ditangan gak perlu pake bangun, jalan, ngambil buku trus balik lagi. Begitu juga kalau selesai baca, ciuunggg... udah deh selesai perkara.

Yap! begitulah kira- kira maksud dan tujuan saya, walaupun saya tetap megakui bahwa Allah menciptakan saya berbeda tingkat kreatifnya dengan mba Happy Salma, sehingga meski maksud dan tujuan kami sama tapi cara yang kami tempuh agak sedikit berbeda.

Perbedaannya adalah, ketika buku-buku saya tidak hanya terselip di tempat tidur, tetapi juga berpetualang ke berbagai arah penjuru mata angin, di atas, bawah, hampir memenuhi kasur, juga ada yang sembunyi di bawah kolong. hehe... tapi yang terakhir ini agak jarang.
Tetapi tips ini sebenarnya ampuh agar tetap memaksa saya untuk tetap membaca.

Pada keadaan apapun, jika melihatnya pasti akan kuraih, meski hanya menepikan agar tidak koyak dan penyok, atau sekedar melihat detail sampulnya, kemudian membuka dan sekedar membaca sebait dua bait.
Jika kemudian ditambah sedikit pil konsentrasi maka dalam sepersekian detik, saya akan menganggguk-ngangguk, atau membetulkan posisi ke ranah yang lebih nyaman, yakin saja saya sudah terkena hipnotis indahnya kebersamaan dengan buku.

Satu hal yang saya sesali bahwa, hampir setahun ini saya seperti kehilangan passion untuk membaca. Entahlah, tapi... ibarat kehilangan, maka sesuatu itu akan kucari dan kucari lagi. Hanya perlu kedisiplinan untuk membentuk kebiasaan yang telah mulai pudar.

Sudahkah anda membaca hari ini? kalau belum, mari kita memulai.

Salam Jendela Dunia!